Rabu, 13 April 2016
Part I
Sepasang mata teduh tengah asyik menghitung bulir-bulir mungil yang berjatuhan dari angkasa,
Riuh hijau nampak berayun tersibak desiran angin,
Gemuruh saling bersahutan di angkasa luas,
Si cantik yang berwarna warni nampak tenang berayun dijatuhi beribu bulir dari angkasa,
Sepasang mata teduh tampak riang memandang jagat yang ditaburi gemercik air,
Kembali Ia menatap langit dan sedikit bergumam "aku bahagia tuhan,akankah senja ini kudapatkan kembali?",
Setelah itu Ia menutup kedua matanya,membiarkan bulir bulir mungil mengecup wajahnya yang ayu,
Hujan senja ini membawa kebahagiaan untuknya,membawakan sejuta rasa yang bahkan sebelumnya tak pernah Ia rasakan,
Lihat,senyumnya mengembang,pipinya merah bak delima mekar,tapi matanya terus terpejam,
Ia masih duduk ditengah taman disudut kota senja itu,hanya ditemani beberapa tangkai mawar merona,,
Tetap asyik dengan mawarnya walaupun hujan deras tengah mengguyur,Ia tetap tersenyum walaupun kali ini gaun birunya nampak basah karena hujan,
Beberapa minggu terakhir Ia sering datang ke taman ini,tetap setia bersama beberapa tangkai mawar digenggamannya,
Jika sedang tidak turun hujan,mawar yang Ia bawa akan dibagikan kepada setiap orang yang berlalu lalang,
Setiap kedatangannya,tak lama langit senja menurunkan hujan,jadi Ia selalu datang bersama hujan..
Tapi kali ini,langit senja tak menurunkan hujan dan si mata teduh tak datang membawa mawarnya.
...
.....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar