Sabtu, 16 April 2016
Awalnya hanya karena secarik kertas,tapi bisa sampai sejauh ini.Terpisah oleh satu bangku kosong (duh kaya judul filem horor aja yakk),bisa kalian bayangkan ketika kalian duduk di sebuah kursi dan disebelah kiri kursi kalian itu adalah kursi kosong,nah tepat disebelah kursi kosong itulah..*jreng jreng dialah orangnya,siapa dia?kalian pasti bertanya.Tidak?ah sudahlah biar aku jelaskan saja,tenang saja dia bukan penghuni bangku kosong itu kok,dia adalah seorang teman dulunya,sekarang?masih teman ko,iya teman hidup hehe.Tidak usah terlalu serius ya bacanya,yang serius itu cukup kamu sama aku aja hehe,apasih-__- oke lanjutkan ya,jadi dia itu ya seseorang yang belum pernah aku temukan eh temui sebelumnya,dan belum pernah ngopi bareng juga pastinya (iyalah kita baru saja bertemu-_-),jadi awalnya aku mencuri-curi pandang ke arahnya,bukan curi uang ko curi pandang yak-_- , tiba-tiba aku merasa tertarik,*tertarik ya bukan ditarik* ,iya tertarik pada pandangan pertama hihi,iya..ketika melihatnya aku langsung tertarik pada secarik kertas yang Ia genggam,mataku tak henti-hentinya memandangi kertas itu.Tertarik dan bingung yang saat itu aku rasakan,kenapa bingung?bayangkan saja bagaimana caranya meminta kertas pada orang yang belum kalian kenal sama sekali saat itu,nama saja tidak tahu bingung kan mau manggil apa,manggil "mas" , "kak" , "om" atau "beb" -_-.Nah beruntung tanpa harus dikode-kodein itu orang nengok duluan,,alaaah mak,kalian tahu?sayangnya,aku lupa ekspresinya saat pertama kali melihatku,yang ada diingatanku hanya saat itu dia tersenyum lalu memberikan secarik kertas itu,aku lupa dialog saat kami sama-sama bertatap.Karena secarik kertas itu mengalihkan duniaku (bukan judul lagu afgan kok yak)."Yes..Yess..Yess,haha aku dapatkan juga kertasnya" dalam hati kok jadi dia tidak bisa mendengarnya.Cie kalian penasaran ya isi kertasnya itu apa?,sampai-sampai aku ingin mendapatkannya dari orang itu.Secarik kertas itu adalah jadwal kegiatan acara di kampusku.Belum aku jelaskan,aku adalah mahasiswi baru semester awal saat itu,di kampus kami akan diadakan acara dan berbagai macam lomba,nah aku menjadi salah satu pesertanya,bukan peserta di ajang pencarian jodoh loh ya,mentang-mentang saat itu aku single,. iya single bukan jomblo ya.Nah kembali ke pembahasan pertama,setelah aku mendapatkan kertas itu,ya aku kembalikan karena itu bukan hak ku kawan.Coba tebak setelah itu apa yang terjadi?ceritanya belum to be continued kok,dia sempat mengulurkan tangannya,eits bukan minta shodaqoh kok :( , ceritanya kita kenalan hihi,,saat itu suasana ruangan begitu bising ,suara riuh rendah beberapa kepala menggema di seluruh ruangan,telingaku tak dapat menangkap kata yang dia ucapkan.Ya,sepertinya dia mengucapkan namanya.yang jelas mulai dari secarik kertas itu cerita bermula.Ternyata aku dan orang itu satu kelas,aku yang notabene nya sulit beradaptasi dengan orang yang baru kenal.Jujur,saat itu aku belum terlalu membuka diri pada orang yang baru aku kenal.Saat bertatap dengannya yang aku lakukan hanya tersenyum lalu menundukkan kepala,bukan so imut ya,memang menunduk adalah kebiasaan yang sulit aku hilangkan,tapi mendatangkan berbagai manfaat,apa saja contohnya?salah satunya adalah menjaga pandangan dari hal yang seharusnya tidak aku pandang.Aku salah besar,dia memang pendiam iya pendiam ketika tidur-_-,setelah beberapa bulan aku mengenalnya,cukup aku tahu beberapa sifat barunya.Dia pandai dalam membuat lelucon,membuat suasana sunyi menjadi ramai.Aku pikir dia cuek,tapi aku salah.Dia peduli,ya peduli lingkungan.Untuk beberapa bulan kedepannya semakin dan semakin aku mengenalnya,banyak cerita baru dan hal baru yang aku dapatkan setelah mengenalnya.Jika aku ceritakan satu persatu disini,aku yakin jariku esok pasti keriting.Cerita dari secarik kertas itu membawaku pada berbagai hal hebat yang belum pernah aku temui sebelumnya,juga membawa berbagai rasa dalam setiap halnya.Karena secarik kertas itu aku mengenalmu dan kamu mengenal aku.Kita yang sama-sama malu menjadi tidak tau malu sekarang ini..
Rabu, 13 April 2016
Ini kisah tentang diriku sendiri,aku melangkah di jalan yang tak kudapatkan orang yang sama 'seperti' diriku.Berjalan di tepian terjal,tak ada seorangpun disini,riuh pohon yang menjerit,ranting-ranting yang menderit terkena tiupan angin,tidak ada bunga atau kupu-kupu disini,hanya ada rumput menguning dan sungai dengan ikan yang menggelepar.Sunyi,senyap.Hal pertama yang hinggap di otakku adalah rasa takut.Aku takut Tuhan,ini bukan jalan yang aku inginkan,tidak ada Ibu atau Ayahku disini,tidak ada teman bermain atau bunga-bunga cantik seperti yang di taman khayangan.Aku seperti berada di antah berantah,entah ini dimana,aku takut bu,ingin pulang.Tak bisakah aku 'sama' seperti mereka?.Ketika malam tiba mereka bisa pergi tidur dengan tenang,tanpa gangguan dan bermimpi hal indah.Ketika pergi ke suatu tempat mereka tidak perlu khawatir dan takut akan ada yang mengawasi atau mengikuti.Ketika sedang duduk sendiri banyak hal yang bisa mereka lakukan,tanpa merasa takut.Sementara aku?,ketika malam tiba aku harus bergelut dengan rasa takutku.Tengah malam tiba,saat semua terlelap,aku masih bergulat dengan mataku,sulit terpejam.Beberapa dari 'mereka' yang tak kalian 'lihat' mulai 'menyapa'ku.Ketika aku pergi ke tempat-tempat baru,rasa khawatir dan takut mulai menyerbu,kembali 'mereka yang tak terlihat' mengikutiku,kemanapun aku melangkah mereka tetap dibelakangku,bahkan hampir menguasi separuh ragaku,jika sedang duduk sendiri,aku tidak benar-benar sendiri,'mereka' tetap tak ingin pergi.Jika saja tubuhku lemah mungkin ragaku sepenuhnya mereka kuasai.Memiliki 'kemampuan' seperti ini bukan aku yang memilihnya,bahkan jika boleh memilih,aku akan memilih menjadi sama seperti temanku yang lain.Ketika melewati sebuah gedung tua atau rumah kosong,aku harus siap menutup 'telingaku' karena jeritan juga rintihan mereka terlalu memekakan telinga,aku tak ingin mendengar apa yang teman-temanku tak dengar,atau saat berjalan di tengah keramaian,"mereka" menatapku.Tuhan,jujur aku takut,aku bukanlah seorang ksatria yang gagah berani,jika 'mereka' tetap mengikutiku,aku takut.Dulu,aku dianggap aneh oleh teman-teman di sekitarku,jujur aku sedih,karena menjadi seperti ini bukan aku yang inginkan.Aneh?iya,bahkan diriku sendiri merasakannya,aku sering terlihat berbincang sendiri,atau tertawa sendiri.sungguh,aku tidak benar-benar sendiri.Hanya saja semakin usiaku bertambah,aku semakin takut,bahkan aku abaikan kemampuan ini.Pernah beberapa kali aku mencoba menghilangkannya,tapi tetap saja kemampuan ini tak kunjung lenyap.aku hampir prustasi.Karena semakin tinggi usiaku maka kemampuanku semakin peka.Sekarang aku adalah seorang mahasiswi di salah satu Akademi Keperawatan di kotaku,,coba pikirkan,keperawatan dan kemampuanku?,entah akan seperti apa nanti,untuk sekarang aku mencoba menjadi seorang yang berpura-pura 'buta' dan 'tuli' dalam 'dunia mereka'.
Part I
Sepasang mata teduh tengah asyik menghitung bulir-bulir mungil yang berjatuhan dari angkasa,
Riuh hijau nampak berayun tersibak desiran angin,
Gemuruh saling bersahutan di angkasa luas,
Si cantik yang berwarna warni nampak tenang berayun dijatuhi beribu bulir dari angkasa,
Sepasang mata teduh tampak riang memandang jagat yang ditaburi gemercik air,
Kembali Ia menatap langit dan sedikit bergumam "aku bahagia tuhan,akankah senja ini kudapatkan kembali?",
Setelah itu Ia menutup kedua matanya,membiarkan bulir bulir mungil mengecup wajahnya yang ayu,
Hujan senja ini membawa kebahagiaan untuknya,membawakan sejuta rasa yang bahkan sebelumnya tak pernah Ia rasakan,
Lihat,senyumnya mengembang,pipinya merah bak delima mekar,tapi matanya terus terpejam,
Ia masih duduk ditengah taman disudut kota senja itu,hanya ditemani beberapa tangkai mawar merona,,
Tetap asyik dengan mawarnya walaupun hujan deras tengah mengguyur,Ia tetap tersenyum walaupun kali ini gaun birunya nampak basah karena hujan,
Beberapa minggu terakhir Ia sering datang ke taman ini,tetap setia bersama beberapa tangkai mawar digenggamannya,
Jika sedang tidak turun hujan,mawar yang Ia bawa akan dibagikan kepada setiap orang yang berlalu lalang,
Setiap kedatangannya,tak lama langit senja menurunkan hujan,jadi Ia selalu datang bersama hujan..
Tapi kali ini,langit senja tak menurunkan hujan dan si mata teduh tak datang membawa mawarnya.
...
.....
Langganan:
Komentar (Atom)